SOPPENG – Sabtu pagi (23/8/2025). Suasana di Gerbang Wisata Alam Citta terasa berbeda dibanding beberapa waktu lalu. Fasilitas terlihat lebih segar dengan cat baru, lingkungan lebih tertata, dan udara pegunungan yang sejuk langsung menyapa setiap pengunjung yang datang.

Destinasi ini menjadi pilihan komunitas traveler Diko Diko untuk berakhir pekan. Seperti biasa, komunitas ini rutin menjelajahi berbagai sudut wisata Soppeng setiap pekannya, dan kali ini Citta menjadi tujuan yang tak ingin mereka lewatkan.
Di kawasan ini, terdapat empat kolam alami dengan air yang bersumber langsung dari mata air pegunungan. Airnya jernih, segar, dan terus mengalir sepanjang musim. Dua kolam dialiri langsung dari sumber mata air, sementara dua lainnya dipisahkan untuk pengunjung anak-anak dan dewasa.
Tak jauh dari kolam, beberapa wisatawan lokal tampak berkemah sejak malam sebelumnya. Salah seorang di antaranya mengungkapkan alasan memilih bermalam di Citta. Menurutnya, destinasi ini cocok untuk rekreasi keluarga karena dekat dari Kota Soppeng, mudah dijangkau, udaranya sejuk, dan suasananya asri. “Kalau bermalam, subuh di sini sangat menyenangkan. Udara segar dan bunyi alam terasa menenangkan,” tuturnya.

Koordinator pengelola kawasan, Syamsuddin, menjelaskan bahwa pihaknya berupaya menambah kenyamanan pengunjung dengan fasilitas yang ada.
“Citta memiliki 10 gazebo, WC, dan mushalla. Di luar kawasan juga tersedia villa dan homestay milik masyarakat, jadi wisatawan bisa memilih untuk bermalam dengan cara berkemah atau menginap lebih nyaman,” jelasnya.

Selain keindahan alam, Citta juga menyimpan kisah sejarah yang dituturkan turun-temurun. Tokoh masyarakat setempat, Kahar Lereng, menuturkan bahwa nama Citta berawal dari kisah Datu Soppeng yang berburu rusa di hutan. Saat kehausan, ia mengikuti anjing hitam peliharaannya yang basah kuyup. Dengan perintah lantang, “Ciddai, Ciddai” (artinya: cepat, segera ke sana), pasukannya menemukan mata air jernih yang menyembur dari akar kayu. Dari sanalah kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan Ciddae, hingga akhirnya menjadi Citta. Konon, anjing hitam dianggap berjasa dalam penemuan mata air tersebut, sehingga hingga kini diyakini bahwa anjing hitam tak akan bertahan lama hidup di kawasan itu.
Ketua komunitas Diko Diko, Bang Idol, menyebut Citta punya daya tarik tersendiri yang sulit dilupakan.
“Citta ini ibarat kaca bening, airnya jernih sekali. Kalau kita duduk santai di sini, rasa capek bisa hilang. Tempatnya cocok untuk keluarga, apalagi kalau mau berkemah atau sekadar mandi-mandi. Ke depan, kalau dikelola lebih serius, saya yakin Citta bisa jadi kebanggaan Soppeng, bukan cuma buat orang sini tapi juga tamu dari luar,” ujarnya.

Sebelum mengakhiri kunjungan, kami masih sempat disuguhkan hidangan khas yang menggoda selera: Sokko Fulu Bolong, Nasu Palekko, Peco Bue, dan segelas hangat Sarabba. Semua dinikmati di salah satu gazebo, sambil tubuh masih basah kuyup usai berendam. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan hangat itu menghadirkan sensasi yang sulit dilupakan, seakan menutup perjalanan dengan kenangan lengkap, dari segarnya air pegunungan hingga hangatnya kuliner Bugis.
Dengan keindahan alam, fasilitas yang semakin tertata, dan sejarah yang melekat, Citta layak menjadi salah satu ikon wisata alam Soppeng yang terus dirawat dan dikembangkan.





