Lebih Tua dari yang Diduga: Artefak Calio Meluruskan Sejarah Kedatangan Hominins di Sulawesi (Bag. 1) 

Infotren24.com, Soppeng – Dari tanah kering lahan jagung Calio, lembaran lama sejarah manusia dibuka kembali. Di situs yang terletak di dataran tinggi Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan ini, tim gabungan peneliti dari Indonesia dan Australia menemukan tujuh artefak batu yang kini dipastikan berusia sekitar 1,02 juta tahun lalu atau lebih.

Penemuan itu bukan sekadar data geologis. Ia menggoyang pemahaman lama bahwa Sulawesi baru dihuni manusia purba sekitar 200 ribu tahun lalu. Kini, narasi itu berubah.

Bacaan Lainnya

“Temuan di Calio menegaskan bahwa hominin sudah hadir di Sulawesi sejak lebih dari satu juta tahun lalu,” ujar Budianto Hakim, peneliti BRIN yang memimpin ekskavasi, dalam percakapan sore kemarin, 6 Agustus 2025.

Artefak-artefak tersebut berupa core, flake, dan chopper ditemukan dalam satu lapisan geologi yang sama. Teknik pembuatannya menunjukkan adanya kemampuan memotong dan mengupas, yang secara arkeologis hanya mungkin dibuat oleh hominin, nenek moyang manusia.

Penanggalan dilakukan melalui kombinasi analisis medan magnet bumi (magnetostratigrafi) serta peluruhan uranium dari fosil gigi babi purba di dekat lokasi. Hasilnya: 1,0 juta bahkan bisa sampai 1,5 juta tahun lalu, menjadikan Calio sebagai situs tertua di Sulawesi yang secara ilmiah dikaitkan dengan aktivitas manusia purba.

Mengubah Peta, Meluruskan Sejarah

Sebelum ini, temuan tertua di Wallacea datang dari Flores, di situs Wolo Sege. Namun Calio kini menjadi bukti kuat bahwa migrasi hominin di Asia Tenggara tidak melewati Sulawesi, tapi justru singgah di dalamnya.

“Bahkan tanpa fosil tubuh, alat-alat ini sudah cukup menjadi bukti keberadaan hominin. Kemungkinan besar jenisnya terkait dengan Homo erectus,” 

Sebelumnya, nama Sulawesi baru disebut dalam konteks budaya Toalean atau Homo sapiens modern. Dengan temuan Calio, jejak manusia purba di pulau ini melompat mundur hingga satu juta tahun lebih. Sebuah lompatan yang tak hanya mengejutkan, tapi juga menantang pandangan lama.

Dari Benda-Benda Kecil, Cerita Besar Dimulai

Sore itu di Calio, ketika embusan angin menerpa lereng-lereng ekskavasi, tak satu pun dari kami yang memandang batu itu sebagai benda biasa. Dalam core dan serpihnya, tersimpan narasi yang telah lama terkubur, manusia telah hadir di Soppeng jauh sebelum sejarah mengenalnya.

Tanpa tulang belulang, tanpa lukisan gua, hanya dengan batu, manusia purba meninggalkan jejaknya. Dan bagi para peneliti, itu sudah cukup untuk memulai ulang catatan sejarah Sulawesi.

Soppeng dalam Peta Baru Evolusi Manusia

Penelitian akan terus berlangsung. Namun Calio telah lebih dulu mencatatkan namanya dalam kajian paleoantropologi. Ia menunjukkan bahwa Wilayah Wallacea bukan batas, melainkan jalur. Dan Soppeng yang dulu dianggap pinggiran mendadak menjadi kunci.

Catatan:                                                                   Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian liputan khusus Infotren24.com, berdasarkan pengamatan langsung penulis di lokasi ekskavasi situs Calio, Kabupaten Soppeng, pada 6 Agustus 2025 sore. Informasi dan kutipan merujuk pada hasil lapangan serta publikasi ilmiah dalam jurnal sains internasiona NATURE (6 Agustus 2025), dengan penulis utama Budianto Hakim dan tim internasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *