Sopppeng, 7 Agustus 2025. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng, Universitas Hasanuddin (UNHAS), Griffith University Australia dan Jurnal Sains International *Nature* menggelar konferensi pers bertema “Perspektif Baru Migrasi Manusia Purba (Hominins) di Wallacea 1,1 – 1,5 Juta Tahun Lalu”, Rabu (6/8), di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Konferensi ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kebudayaan, Kepala BRIN, perwakilan Rektorat UNHAS, Ketua DPRD Soppeng, Forkopimda, pimpinan SKPD, serta para peneliti dari UNHAS dan Griffith University Australia, termasuk Prof. Adam Brumm.
Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng membuka acara dengan menyampaikan kebanggaannya atas temuan arkeologis yang menempatkan Bumi Latemmala sebagai wilayah dengan jejak peradaban manusia purba tertua di Indonesia. “Temuan ini menunjukkan betapa kayanya sejarah kebudayaan kita. Soppeng bukan sekadar tanah warisan, tapi tanah yang menyimpan jejak manusia purba sejak lebih dari satu juta tahun lalu,” ujarnya.
Kepala BRIN yang diwakili oleh Heri Yoga, Kepala Riset Kebudayaan dan Sastra, menjelaskan bahwa temuan di situs Calio telah dipublikasikan di Nature, salah satu jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia. “Ini bukan hanya penting bagi Indonesia, tapi juga bagi sejarah manusia secara global. Artikel ini telah diverifikasi oleh banyak ahli dan menjadi pengakuan internasional atas nilai ilmiah temuan ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa riset di Calio tidak akan berhenti pada konferensi pers ini. Potensi pengembangan situs sebagai pusat edukasi dan ekonomi budaya terbuka lebar. “Lihat saja Sangiran yang kini menjadi destinasi budaya dan edukatif. Situs Calio punya potensi yang sama,” tambah Heri. BRIN mendorong agar riset-riset di daerah ke depan lebih banyak dimotori oleh BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah).
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNHAS, Prof. Andi Ahmar, yang mewakili Rektor UNHAS, menegaskan komitmen kampus merah dalam melanjutkan riset dan kolaborasi lintas lembaga di Soppeng. “Kolaborasi kami dengan Pemda Soppeng telah berlangsung lama. Temuan ini hanya permulaan dari potensi riset besar di wilayah ini,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Kementerian Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX menyebut bahwa temuan ini memiliki implikasi besar terhadap pemahaman global tentang migrasi dan kehidupan awal manusia purba. “Lembah Walanae ternyata bukan hanya dilalui, tapi mungkin dihuni oleh hominin dengan kemampuan adaptasi dan teknologi yang maju pada masanya,” ujarnya.
Konferensi pers ini menjadi tonggak penting dalam sejarah riset arkeologi Indonesia, khususnya wilayah Wallacea, serta membuka peluang besar dalam pengembangan situs Calio sebagai pusat penelitian dan destinasi warisan budaya dunia.





