“Keberhasilan kadang dianggap mencurigakan. Yang menonjol, dicap pencitraan. Yang berjalan cepat, disangka ada maksud lain”.
Suatu sore saya berbincang bersama seorang kepala desa di wilayah pesisir Kabupaten Luwu Timur. Kami duduk di atas tanggul sungai yang membelah perkampungan. Air mengalir pelan, dan di kejauhan terdengar suara anak-anak bermain di halaman rumah.
Kepala desa itu bercerita tentang banyak hal, tentang fasilitas kampung semakin baik, kelompok nelayan dan perempuan yang kini sudah berkembang, tentang BUMDes yang mulai menggeliat, dan tentang sistem pencatatan keuangan yang mereka kelola lebih transparan lewat aplikasi sederhana.
“Program begini sebaiknya ditulis, Pak. Biar bisa jadi contoh untuk yang lain,” saya usul.
Ia tersenyum kecil, lalu menggeleng.
“Jangan dulu. Kalau sudah dipublikasikan, nanti mulai banyak yang datang… bukan untuk belajar, tapi untuk mencari kesalahan.”
Saya terdiam.
Bukan karena saya heran, tapi karena saya paham. Itu bukan cerita baru.
Beberapa kepala desa lain pun pernah berkata hal yang serupa.
Mereka bekerja dalam diam, membawa perubahan yang terasa. Tapi ketika bicara soal publikasi, mereka ragu. Karena sorotan tak selalu berarti dukungan. Kadang justru membawa kecurigaan.
Sebagai orang yang pernah terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat, saya tahu tidak semua program gagal. Di desa-desa, saya sering menemukan keberhasilan yang lahir dari gotong royong dan ketekunan. Tapi keberhasilan itu jarang disuarakan. Bukan karena tak bangga, tapi karena takut disalahpahami.
Di tempat kita, keberhasilan kadang dianggap mencurigakan. Yang menonjol, dicap pencitraan. Yang berjalan cepat, disangka ada maksud lain.
Padahal praktik baik seharusnya dibagikan. Bukan untuk pamer, tapi untuk menguatkan yang lain. Kalau desa yang berhasil justru memilih diam, lalu siapa yang akan jadi teladan?
Kita perlu membangun ruang yang aman bagi keberhasilan desa untuk tampil.
Bukan ruang yang membuat orang takut dipuji. Karena keberhasilan bukan untuk disembunyikan tapi layak dibagikan.
Semoga suatu hari nanti, kepala desa seperti yang saya temui di tanggul sungai itu bisa berkata:
“Silakan tulis, biar orang lain ikut belajar.”
Dan ia mengatakannya bukan dengan ragu, tapi dengan bangga.
ZULKARNAIN, ST., MM., C.BJ., C.EJ





