SOPPENG — Sabtu, 14 Juni 2025. Gerimis turun perlahan membasahi hutan lindung Lejja. Daun-daun yang basah memantulkan cahaya kelabu, sementara uap hangat naik dari kolam air panas alami yang tersembunyi di lembah. Kabut turun perlahan dari bukit, menyelimuti villa-villa kayu yang berdiri anggun di antara pepohonan. Taman Wisata Alam (TWA) Lejja menyambut malam dengan damai dan syahdu.
Sejak siang, pengunjung berdatangan. Beberapa dengan kendaraan pribadi, lainnya rombongan komunitas. Hujan tak menyurutkan langkah. Mereka datang membawa bekal, perlengkapan menginap, dan keinginan untuk beristirahat dari bising kota.
Villa-villa berpanggung yang mengikuti kontur tanah mulai dihuni. Di antara pepohonan, sejumlah tenda berdiri di area camping ground. Lampu-lampu kecil menyala, aroma kayu bakar merebak.
Menjelang malam, suasana menjadi magis. Uap dari kolam belerang bercampur dengan kabut hujan. Di kolam utama, pengunjung berendam dalam diam. Tak banyak percakapan, hanya tarikan napas pelan. Sebagian menyandarkan kepala di pinggir kolam, membiarkan kelelahan larut bersama hangatnya air.
Di tepi kolam, suasana sunyi menyelimuti. Suara hujan jatuh di dedaunan dan riak air menjadi musik alami. Lampu taman menciptakan pantulan lembut di permukaan air. Bau belerang samar terasa, memberi kesan alami yang tak bisa ditiru wahana buatan.
Villa-villa tetap terang, namun tak gaduh. Obrolan adalah pengalaman. Ia bukan hanya tempat untuk tubuh beristirahat, tapi juga bagi jiwa untuk kembali tenang. Hutan menyambut, air menghangatkan, dan malam mengingatkan kita untuk tidak selalu tergesa-gesa dalam hidup.





