“Beliau itu penuh dedikasi. Dedikasi beliau tumbuh dan menyeruak dari didikan pertemanan dengan ilmuan kelas dunia. Mengabdi pada ilmu pengetahuan, jauh dari riuh rendah keplokan tangan penonton.” (Iwan Sumanteri, 9/8/2025)

Bagi Anwar Akib, hubungan dengan Calio dimulai jauh sebelum namanya dikenal sebagai penjaga situs. Penelitian di kawasan ini, menurut kisah yang ia dengar dari para pendahulunya, sudah berlangsung sejak sekitar 1940an, ketika peneliti asing mulai tertarik pada temuan fosil yang diyakini menyimpan jejak penting sejarah manusia purba di Sulawesi.
Tahun 1968 menjadi titik balik. Usianya baru 18 tahun, baru saja lulus dari SMEA, ketika ia diminta membantu tim peneliti asal Belanda yang dipimpin Hendrik Robert van Heekeren, seorang arkeolog terkemuka di bidang prasejarah.
Tugasnya sederhana namun penting, membantu di lapangan, menjadi penghubung dengan warga, dan memastikan kegiatan penelitian berjalan lancar. Ia masih mengingat jelas bagaimana tim menelusuri lapisan tanah, memeriksa fragmen tulang dan batu.
Namun menjelang 1970, situasi keamanan memburuk sehingga Van Heekeren memutuskan menghentikan penelitian. Beberapa fosil, sampel, dan berkas dititipkan kepada Anwar sebelum tim meninggalkan lokasi.
Penelitian tidak berhenti di situ. Pada 1970, giliran tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dipimpin RP Soejono bersama ahli geologi R. Sartono dari ITB masuk ke Calio. Anwar kembali terlibat, melanjutkan perannya sebagai jembatan antara peneliti dan masyarakat.
Bagi dirinya, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan awal keterikatan panjang dengan sejarah purba Lembah Walanae.
Tahun 1985 hingga 1987, Museum Geologi Bandung menggelar ekspedisi besar di Lembah Walanae untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan vertebrata purba di Calio dan sekitarnya. Dipimpin Professor Fachroel Azis, pakar paleovertebrata, penelitian ini menemukan fosil proboscidea atau gajah purba dan suidae atau kerabat babi.
Anwar hadir bukan sebagai peneliti resmi, tetapi sebagai penunjuk lokasi-lokasi yang secara turun-temurun dikenal warga sebagai tanah yang menyimpan cerita. Ia membantu memetakan area ekskavasi, membaca tanda-tanda permukaan, dan memastikan penelitian berjalan tanpa menyinggung adat setempat.
Tiga dekade kemudian, pada 2019, penelitian di Calio memasuki babak baru. Budianto Hakim dari UNHAS Makassar bersama Prof. Adam Brumm dari Griffit University Australia memimpin tim gabungan yang membuka enam kotak ekskavasi. Selain mereka, hadir pula peneliti seperti Unggul Prasetyo Wibowo dan Akin Duli.
Kampanye ini berlangsung hingga 2022. Temuan mereka mencakup artefak batu yang menandai keberadaan hominin di Sulawesi lebih awal dari perkiraan sebelumnya, dengan penanggalan antara 1,1 hingga 1,5 juta tahun.
Di tengah penelitian modern yang penuh instrumen ilmiah itu, sosok Anwar tetap menjadi bagian tak terpisahkan. Ia menunjukkan jalur yang produktif untuk digali, membantu memahami struktur lapisan tanah, dan menjembatani komunikasi antara peneliti dan masyarakat.
Perannya menjaga agar riset tidak terlepas dari konteks budaya dan ingatan kolektif warga Walanae. Dari 1968 hingga 2022, ia bukan hanya saksi perjalanan ilmu, tetapi juga penjaga agar pengetahuan purba tetap dihormati oleh peneliti, ahli, dan generasi mendatang.





