Anwar Akib: Penjaga Tanah Purba

“Di mata orang lain, itu hanya batu. Tapi di tangan orang yang mengerti, ia adalah suara leluhur yang tak pernah padam.”

Bacaan Lainnya

Tulisan ini adalah kelanjutan dari rangkaian liputan saya tentang Situs Calio di Lembah Walanae sebuah kawasan yang dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan berkat hasil penelitian terbaru Prof Adam Brumm dari Griffith University Australia dan Budianto Hakim dari BRIN. Jika pada tulisan-tulisan sebelumnya saya banyak mengulas temuan ilmiah mereka, kali ini saya mengajak pembaca melihat sosok yang tak kalah penting. Anwar Akib, pelestari sekaligus kurator lokal yang telah puluhan tahun menjaga denyut warisan leluhur di tanah ini.

Perjalanan saya untuk bertemu Anwar bermula dari obrolan santai dengan Iwan Sumantri, arkeolog senior Unhas sekaligus sahabat lama. Iwan menyarankan saya menemui tokoh yang oleh banyak peneliti disebut “arsip hidup” Situs Calio.

Kemarin siang, saya memacu motor menuju Calio. Tujuannya jelas, mencari rumah dan berharap bisa bertemu langsung dengan sang penjaga tanah purba. Namun, informasi di lapangan membuat rencana berubah, Pak Anwar kini berdomisili di Makassar.

Saran berikutnya datang dari Andi Ahmad Saransi, seorang penulis yang juga mengenal beliau. “Kalau mau ketemu, langsung saja ke Makassar,” katanya. Malam itu juga, saya memutuskan berangkat. Melalui Haeril Anwar Akib, anak beliau yang kini tinggal di Jakarta, saya mendapatkan alamat rumahnya di kawasan BTP, Makassar.

Sabtu pagi, saya tiba di rumahnya. Bangunan sederhana itu memiliki suasana yang khas, sebuah tempat yang terasa menyimpan banyak cerita. Di kursi ruang tamu, saya disambut sosok sepuh dengan tatapan teduh. Meski fisiknya terlihat rapuh, berdiri pun agak gemetar, bicaranya tetap lancar dan penuh semangat ketika membahas tanah purba yang telah ia jaga selama puluhan tahun.

“Warisan leluhur itu bukan sekadar benda,” ujarnya pelan. “Di dalamnya ada ilmu, ada cerita, ada hubungan manusia dengan masa lalu. Kalau hilang, kita seperti memutus jembatan ke akar kita sendiri.”

Bagi Anwar Akib, menjaga artefak dan fosil di Calio bukanlah pekerjaan yang diukur dengan bayaran. Sejak pertama terlibat dalam survei arkeologi tahun 1968 bersama tim gabungan Belanda–Indonesia, ia telah melihat sendiri bagaimana setiap pecahan batu, alat serpih, atau fragmen fosil adalah bagian dari mozaik sejarah manusia di Sulawesi.

Ia bercerita tentang awal mula mengoleksi, bukan sebagai kolektor pribadi, tetapi sebagai penjaga agar benda-benda itu tetap berada di tempat asalnya (in situ). Dari Calio, Bulu Baka, Berru, Calio Lama, hingga Kacallange, setiap temuan ia simpan dan rawat dengan hati-hati. “Asli dan bawaan alami,” katanya menegaskan.

Di tengah keterbatasan, ia tetap konsisten. Sebab bagi Anwar, jika fosil dan artefak ini hilang atau berpindah tangan, bukan hanya benda yang lenyap tetapi juga pengetahuan yang seharusnya diwariskan kepada generasi mendatang.

Sabtu pagi itu, di ruang tamu sederhana di Makassar, saya merasa sedang duduk di hadapan bukan sekadar seorang kakek tua, tapi sebuah perpustakaan hidup yang menyimpan ingatan panjang tanah Walanae.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *